Friday, June 27, 2008

Sabda Yesus tentang manusia

Isa berkata kepada kaum hawariyun: "Manusia diciptakan di dunia ini dalah empat tahap. Di dalam tiga tahap manusia merasa tenang, dan di tahap keempat dia merasa gundah dan takut bahwa Allah akan meninggalkan dia. Di dalam tahap pertama manusia dilahirkan ke dalam tiga kegelapan: kegelapan badan, kegelapan rahim, dan kegelapan ari-ari. Allah mengurus dia di dalam kegelapan badan. Bila dia sudah terbebas dari kegelapan badan, dia bertemu dengan makanan yang dia tidak bisa hampiri dengan menggerakkan kaki atau dia raih dengan tangan. Makanan ini disediakan untuknya; dan dia dihadiahi ini hingga dia tumbuh. Bila dia sudah disapih daari air susu, dia mencapai tahap ketiga. Dia mendapat makanan dari orang tuanya yang memperolehnya dengan jalan halal atau haram. Jika orang tuanya meninggal maka orang-orang lain akan merasa kasihan padanya; seseorang memeberinya makan, orang lain memberinya minum, yang lainnya memberi dia tempat untuk tinggal, dan yang lainnya lagi memberi dia pakaian. Jika dia mencapai tahap keempat, bertenaga dan tegak, serta menjadi dewasa, maka takutlah dia bahwa tidak ada lagi yang mengurusi dia, dan [mulailah] dia menyerang manusia lain, mengkhianati amanat mereka, merampoknya, mengambil harta benda mereka, meski dia [sebenarnya] takut bahwa Allah Yang Mahakuasa bisa meninggalkannya."

Tuesday, June 24, 2008

10 sebab hati menjadi mati

Sepuluh faktor penyebab hati menjadi mati

Dari Syaqiq al balkhi, dia berkata :”Ibrahim bin adham berjalan-jalan di pasar basrah, lalu orang-orang berkumpul kepadanya. Ibrahim berkata ketika mereka menanyakan tentang firman Allah : ‘ud uunii astajib lakum………Berdo’alah kalian kepadaku, niscaya Aku mengabulkan do’a kalian.”

Padahal kami telah berdo’a bertahun-tahun, mengapa Allah belum juga mengabulkan do’a kami…?

Ibrahim menjawab :” hatimu telah mati karena sepuluh perkara :
1. Engkau mengelan Allah, tapi tidak menunaikan haknya.
2. Engkau membaca kitab Allah, tapi tidak mau mengamalkan isinya.
3. Engkau mengaku bermusuhan dg. Iblis, tapi mengikuti tuntunannya.
4. Engkau mengaku cinta Rasul, tetapi meninggalkan perilaku dan sunnahnya.
5. Engkau mengaku senang ( cinta ) kepada syurga, tetapi tidak berusaha menuju kepadanya.
6. Engkau mengaku takut neraka, tetapi tidak mengakhiri perbuatan-perbuatan dosa.
7. Engkau mengakui bahwa kematian itu haq, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
8. Engkau asyik meneliti aib-aib orang lain, tetapi melupakan aibmu sendiri.
9. Engkau makan rizqi Allah, tetapi tidak bersyukur kepadanya.
10. Engkau mengubur orang-orang mati diantara kalian, tetapi tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.”

Bersyukur kepada Allah adalah memuji dengan segala kebagusan-kebagusanNYA yang telah dianugerahkan, kemudian taat kepadaNYA.

Mengambil pelajaran dari peristiwa kematian ialah dengan cara meningkatkan kesadaran diri. Jika seseorang telah sadar, bahwa pasti akan mengalami kematian, makan diharapkan akan timbul kesenangan terhadap perbuatan-perbuatan baik dan takut atau enggan melakukan perbuatan jelek.

Dalam kaitannya dengan masalah do’a ini, diriwayatkan dari Ibnu abi hatim, sesungguhnya Jibril berkata kepada Nabi sebagai berikut : “ Tiada aku diutus menemui seseorang yang lebih menyenangkan kepadaku, kecuali diutus menemui engkau. Tidakkah sebaiknya aku mengajarimu suatu do’a yang sengaja kusimpan untukmu dan tidak pernah aku ajarkan kepada seorangpun sebelum engkau. Do’a ini dapat engkau unjukkan dikala senagn ataupun susah , ucapkanlah :

“ Yaa Nuuros samaawaati wal ardl…..wa yaa qoyyuumus samaawaati wal ardl…….Yaa shomadas samaawaati wal ardl……..wa Yaa zainas samaawaati wal ardl……..wa yaa jamaalas samaawaati wal ardl…..Yaa dzal jalaali wal ikraam……wa yaa ghautsal mustaghiisiin wa muntahaa roghbatil ‘aabidiin……..wamunaffisal kurobi ‘anil makruubiin………wa mufarrijal ghammi ‘anil maghmuumiin…….washarikhal mustashrikhiin…………wamujiiba su’aalil ‘aabidiin………..

Wahai yang menerangi langit dan bumi…….wahai yang mendirikan langit dan bumi…….wahai yang dibutuhkan langit dan bumi…..wahai yang menghiasi langit dan bumi………..wahai yang memperindah langit dan bumi……….. wahai yang maha agung lagi maha mulia……wahai yang menolono orang-orang yang meminta pertolongan……..dan penghabisan yang dicintai orang-orang yang beribadah….yang melonggarkan kebingungan dari orang-orang yang bingung…… yang menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah……. Wahai penolong orang-orang yang memekikkan rintihan……dan wahai Tuhan yang mengabulkan permintaan orang-orang yang beribadah………

Kemudian kamu meminta kepada Allah kebutuhan dari berbagai kebutuhan, baik duniawa maupun ukhrowi.

Sunday, June 22, 2008

Sepuluh keutamaan bersiwak

Rasulullah bersabda :

“ Perhatikan benar-benar tentang bersiwak ( gosok gigi ), karena disitu terdapat sepuluh keistimewaan :

1. Membersihkan mulut.

2. Mendatangkan ridla Allah

3. Menjadikan marah setan.

4. Dicintai Allah yang MAha Pengasih dan Maha Hafadzah

5. Menguatkan gusi.

6. Menghentikan dahak.

7. Mengharumkan bau pernafasan.

8. Memadamkan gejolak temperamen.

9. Menajamkan pandangan mata dan menghilangkan bau mulut.

10. Bersiwak itu termasuk sunnah Nabi. “

Selanjutnya Nabi bersabda : “ Shalat sekali dg. Bersiwak itu lebih utama dibanding tujuh puluh kali shalat tanpa siwak.”

Hadits ini tidak dapat dipahami dengan asumsi, bahwa bersiwak lebih utama daripada jama’ah y ang hanya mampu meningkatkan pahala menjadi dupuluh tujuh derajad, karena boleh jadi satu derajad dalam shalat berjamaah itu mampu menandingi beberapa derajad dalam tujuh puluh derajad pahala shalat yang ditunaikan dengan bersiwak.

Yang dimaksud dengan temperamen tubuh, ialah campuran dalam perbandingan tertentu berbagai cairan tubuh yang dapat menentukan kondisi tubuh seseorang. Unsur temperamen adalah lender kubing, lender hitam, dahak dan darah. Ukuran banyak dan sedikitnya bahan-bahan inidalam percampuran satu sama lainnya, akan menentukan kondisi tubuh seseorang, bahkan kondisi kejiwaannya.

Dalam satu riwayat dikatakan juga, bahwa besiwak membawa faedah dapat menyehatka organ-organ dalam tubuh. ( diambil dari kitab “Nasha’ihul ‘Ibad” )